Then the man said, "This one at last is bones of my bones and flesh of my flesh; this one will be called 'woman' for she was taken out of man"
4.17.2012
Genesis 2 : 23
4.15.2012
4.12.2012
Inilah saat-saat aku benar takut kehilangan mama. Memang operasinya berjalan dengan lancar. Dan seluruh tumor yang menyakitinya selama ini sudah diangkat. Secara tekhnis dia sudah aman. Tuhan sudah mengangkat sebagian bebannya. Aku sungguh tidak bisa menahan air mata melihat mama hari itu hanya bisa bangun sebentar-sebentar karena pengaruh obat bius. Beliau belum bisa minum banyak, belum bisa makan banyak, belum bisa bergerak banyak. Pernah satu waktu dia mengeluh badannya pegal luar biasa. Aku paham rasanya,Ma. Sabar, hari Sabtu nanti mama sudah boleh pulang. Tuhan, aku tidak mengerti bagaimana nanti jika mama benar-benar meninggalkan aku. Tidak tahu kapan waktunya, tapi pasti terjadi kan, Tuhan? Baru begini saja aku sudah tidak kuat, pikiranku sudah macam-macam. Satu permintaanku Tuhan, biarkan mama melihatku nanti di wisuda, sampai aku sukses. Beri aku kesempatan membahagiakan dia dulu, meski hanya sebentar.
"Aku memang bukan tipikal perempuan yang merangkai kalimat lisan dengan baik. Aku sudah merasa sulit menangis dan berbicara dalam waktu bersamaan. Sepertinya jiwaku sudah tidak se-sensitif dulu, baru bicara sebentar lalu tertawa atau lalu menangis. Aku menulis, tidak berbicara secara langsung. Aku berpikir, dalam waktu lama, aku sebenarnya agak anti terhadap spontanitas."
4.07.2012
The Golden Road - Chapter XII, page 146-148
Kami pergi menjelajah pada bulan Mei itu, mengikuti panggilan angin yang menari-nari menuju sebuah bukit landai di sebelah barat. Bukit ini terletak di bawah bentangan langit musim semi biru pucat, dikelilingi batang-batang pohon pinus dan cemara muda yang tegak mencungkup rongga-rongga dan sudut-sudut kecil tempat sinar matahari masuk dan tak pernah keluar lagi. Sinarnya matahari bersemayam di sana dan memberikan kehangatannya untuk menumbuhkan tanam-tanaman, padahal di tempat lain tunas-tunasnya masih terlelap.
Di sanalah kami menemukan bunga-bunga mayflower kami, setelah lama mencari-cari. Bunga-bunga mayflower tidak pernah memamerkan diri. Mereka mesti dicari, barulah mereka akan menyerahkan harta berharga mereka kepada si pencari - gerumbulan bunga seputih bintang dan merah muda fajar yang menyimpan roh dan inti seluruh musim semi, dipancarkan lewat keharuman yang terlalus sederhana kalau disebut parfum, karena begitu lembut dan spiritual aromanya.
Kami berkelana melintasi bukit, saling memanggil, tertawa, bercanda, terpisah satu sama lain dan menikmati tersesat di dalam hutan kecil tanpa jalan setapak itu, lalu kembali saling menemukan tanpa terduga di ceruk-ceruk, celah-celah, dan keheningan bermandikan cahaya matahari, tempat angin mendesir dan bertiup lembut dan berlalu perlahan. Saat matahari mulai tergantung rendah, menebarkan galur-galur cahaya besar seperti kipas sampai ke puncak, kami pun berkumpul di sebuah lembah kecil dan terpencil yang banyak ditumbuhi pakis-pakis hijau muda, di keteduhan bayang-bayang bukit berhutan. Di sana ada sebuah kolam dangkal-airnya hijau berkilauan, dan mungkin peri-peri akan senang menari-nari di pinggirannya, seperti di bukit Argive atau lembah Creta. Kami duduk dan membersihkan bunga-bunga yang kami petik dari tangkai-tangkainya dan daun-daunnya yang telah layu. Kelopak-kelopak bunganya kami jadikan buket-buket untuk mengisi keranjang-keranjang kami dengan keharumannya yang manis. Si Gadis Pendongeng menyisipkan sejumlah bunga berwarna merah jambu indah di ikal-ikal rambutnya yang cokelat, kemudian menceritakan sebuah legenda kuno tentang gadis Indian yang cantik, yang meninggal karena patah hati ketika butir-butir salju pertama mulai turun, karena dia percaya kekasihnya yang telah lama pergi sudah berpaling darinya. Tetapi kekasihnya kembali pada musim semi, setelah lama mendekan sebagai tawanan. Ketika mendengar si gadis telah meninggal, dicarinya makam gadis itu untuk diratapinya. Di sana, di bawah dedaunan mati sisa-sisa tahun lalu, dia menemukan kuncup-kuncup bunga yang manis, yang belum pernah terlihat, dan tahulah dia bahwa itu adalah pesan cinta serta kenang-kenangan dari kekasihnya yang berbola mata hitam.
Di sanalah kami menemukan bunga-bunga mayflower kami, setelah lama mencari-cari. Bunga-bunga mayflower tidak pernah memamerkan diri. Mereka mesti dicari, barulah mereka akan menyerahkan harta berharga mereka kepada si pencari - gerumbulan bunga seputih bintang dan merah muda fajar yang menyimpan roh dan inti seluruh musim semi, dipancarkan lewat keharuman yang terlalus sederhana kalau disebut parfum, karena begitu lembut dan spiritual aromanya.
Kami berkelana melintasi bukit, saling memanggil, tertawa, bercanda, terpisah satu sama lain dan menikmati tersesat di dalam hutan kecil tanpa jalan setapak itu, lalu kembali saling menemukan tanpa terduga di ceruk-ceruk, celah-celah, dan keheningan bermandikan cahaya matahari, tempat angin mendesir dan bertiup lembut dan berlalu perlahan. Saat matahari mulai tergantung rendah, menebarkan galur-galur cahaya besar seperti kipas sampai ke puncak, kami pun berkumpul di sebuah lembah kecil dan terpencil yang banyak ditumbuhi pakis-pakis hijau muda, di keteduhan bayang-bayang bukit berhutan. Di sana ada sebuah kolam dangkal-airnya hijau berkilauan, dan mungkin peri-peri akan senang menari-nari di pinggirannya, seperti di bukit Argive atau lembah Creta. Kami duduk dan membersihkan bunga-bunga yang kami petik dari tangkai-tangkainya dan daun-daunnya yang telah layu. Kelopak-kelopak bunganya kami jadikan buket-buket untuk mengisi keranjang-keranjang kami dengan keharumannya yang manis. Si Gadis Pendongeng menyisipkan sejumlah bunga berwarna merah jambu indah di ikal-ikal rambutnya yang cokelat, kemudian menceritakan sebuah legenda kuno tentang gadis Indian yang cantik, yang meninggal karena patah hati ketika butir-butir salju pertama mulai turun, karena dia percaya kekasihnya yang telah lama pergi sudah berpaling darinya. Tetapi kekasihnya kembali pada musim semi, setelah lama mendekan sebagai tawanan. Ketika mendengar si gadis telah meninggal, dicarinya makam gadis itu untuk diratapinya. Di sana, di bawah dedaunan mati sisa-sisa tahun lalu, dia menemukan kuncup-kuncup bunga yang manis, yang belum pernah terlihat, dan tahulah dia bahwa itu adalah pesan cinta serta kenang-kenangan dari kekasihnya yang berbola mata hitam.
4.02.2012
"Kenapa kamu berpikir aku jadi begini karena
pergumulanku sendiri?
Aku mengucapkan kata-kata itu juga karena kamu duluan
yang menyatakannya. Meski tidak secara langsung, tapi
membuatku sakit hati luar biasa.
Aku memang bukan orang baik-baik, seperti kamu
yang katanya selalu bisa memaafkan orang dan susah
meluapkan emosi. Tapi aku yakin Tuhan tetap sayang
aku. Jangan kamu buat pernyataan seperti itu. Dan
jangan meresponku dengan gaya seperti bukan kamu
penyebab aku begini."
pergumulanku sendiri?
Aku mengucapkan kata-kata itu juga karena kamu duluan
yang menyatakannya. Meski tidak secara langsung, tapi
membuatku sakit hati luar biasa.
Aku memang bukan orang baik-baik, seperti kamu
yang katanya selalu bisa memaafkan orang dan susah
meluapkan emosi. Tapi aku yakin Tuhan tetap sayang
aku. Jangan kamu buat pernyataan seperti itu. Dan
jangan meresponku dengan gaya seperti bukan kamu
penyebab aku begini."
Subscribe to:
Posts (Atom)

